Lim Wei Wen

Di tepi jalan, seorang pelukis tua menjual cat airnya. Setiap helai dijemur seperti hari yang baru dibasuh. Aku berdiri lama — bukan untuk membeli, tetapi untuk melihat seseorang yang masih percaya pada tangannya sendiri.
Hanya Lim Wei Wen menulis di sini.
Lim Wei Wen

Di tepi jalan, seorang pelukis tua menjual cat airnya. Setiap helai dijemur seperti hari yang baru dibasuh. Aku berdiri lama — bukan untuk membeli, tetapi untuk melihat seseorang yang masih percaya pada tangannya sendiri.
Lim Wei Wen
Malam ini hujan turun dengan cara yang lembut. Seperti ingin mengatakan bahawa segala yang berat, boleh juga dibiarkan perlahan-lahan.
Lim Wei Wen

Buku ini sampai ke sungai bersalji sebelum aku. Mungkin begitulah tugas sebuah buku — pergi dahulu ke tempat yang penulisnya belum mampu.
Lim Wei Wen
Tiga baris hari ini. Dua dipadam. Yang tinggal satu, tetapi ia betul.
Lim Wei Wen
Kedai buku lama itu masih ada. Pemiliknya tidak ingat saya, tetapi ingat buku yang saya beli sepuluh tahun lalu. Saya rasa itu satu bentuk ingatan yang lebih jujur.
Lim Wei Wen

tidak pernah aku menyalahkan kebun dewasakan pohon tiba-tiba tanah ini lebih mengenali waktu subur dan berbuah di sini kukutip segala kesempatan untuk tidak melupakan makna matahari
Lim Wei Wen

hanya pandangan pertama kuwarnai cinta dengan wajahmu takdir ketika itu berjubah cahaya membuat aku percaya tuhan sedang diam-diam menulis pertemuan sebelum membenarkan rindu sebagai pengirim
Lim Wei Wen

musim ini mawar layu sebelum kenali durinya maafkanlah aku tidak sempat menelaah kepedihan itu
dan mawar katakan itu cirimu ajarkan aku bagaimana mencintai
Lim Wei Wen

(i) cahaya pertama dituai ketika tumbuh dari ufuk di situ keringat paling segar menggesa padi ke bandar
(ii) aku menghadam sebutir doa lalu mengenang segenggam tekad desa